Menjaga Amanah Sebuah Sepeda Ontel: Kisah Mukrom Merawat Titipan Haji Ahmad Sobandi Selama Bertahun-tahun
Kabupaten Tangerang, iNews45.com || Di sebuah rumah sederhana di Kampung Pabuaran, Desa Bumiayu, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang, tersimpan sebuah sepeda ontel tua bermerek Evergreen dengan logo bergambar ayam merah. Bagi sebagian orang, sepeda itu mungkin hanya barang usang yang dimakan usia. Namun bagi Mukrom, pemilik sekaligus penjaganya, sepeda tersebut merupakan amanah yang tidak ternilai harganya.
Mukrom mengaku menerima sepeda itu langsung dari almarhum Haji Ahmad Sobani sekitar tahun 2008. Menurut penuturannya, sebelum meninggal dunia, Haji Ahmad Sobandi menitipkan sepeda tersebut kepadanya dengan pesan yang sangat jelas: sepeda itu tidak boleh diperjualbelikan.
"Beliau menitipkan sepeda itu kepada saya. Pesannya jangan dijual. Kalau suatu saat ada yang ingin memilikinya, hanya boleh ditukar dengan mobil Mercedes-Benz," ujar Mukrom saat ditemui.
Dalam wawancara, Mukrom menyebut Haji Ahmad Sobandi sebagai sosok ulama yang diyakininya memiliki kedudukan spiritual khusus. Pernyataan tersebut merupakan keyakinan dan penuturan pribadi narasumber.
Selama lebih dari belasan tahun menjaga titipan itu, Mukrom mengaku sudah beberapa kali didatangi orang yang ingin menukar atau membeli sepeda tersebut. Bahkan, menurutnya, pernah ada yang menawarkan sepeda itu dengan motor Yamaha hingga Yamaha Vixion yang saat itu masih baru. Namun semua tawaran itu ditolak karena dianggap tidak sesuai dengan amanat yang diterimanya.
"Yang datang sudah beberapa kali. Ada yang bawa motor, tapi saya tidak mau. Amanatnya harus mobil Mercy, jadi saya tetap pegang amanah itu," tuturnya.
Bukan hanya sepeda, Mukrom juga mengaku masih menyimpan sejumlah barang peninggalan lain yang dititipkan kepadanya, seperti bendera, tiang bendera, rantai, hingga tasbeh. Ia mengatakan beberapa kolektor pernah berusaha membeli barang-barang tersebut dengan harga yang cukup tinggi, namun semuanya ditolak.
Menurut Mukrom, nilai barang-barang itu bukan terletak pada harga jualnya, melainkan pada pesan yang menyertainya.
Kini kondisi sepeda Evergreen itu memang sudah tidak lagi seperti dahulu. Karat mulai menggerogoti rangka, beberapa bagian telah rusak, dan usia membuatnya tampak rapuh. Meski demikian, Mukrom mengaku sengaja tidak memperbaikinya.
"Dulu memang tidak boleh diperbaiki. Banyak yang menawarkan untuk membaguskan sepeda ini, tetapi saya tidak mengizinkan," katanya.
Bagi Mukrom, menjaga amanah lebih penting daripada menjaga nilai ekonomi sebuah benda. Ia mengaku tidak mengetahui alasan mengapa Haji Ahmad Sobani memilih dirinya sebagai penerima titipan tersebut. Yang ia ingat, almarhum datang sendiri dan mempercayakan sepeda itu kepadanya.
Hingga kini, di rumah sederhana di Kampung Babuwaran, sepeda ontel tua itu masih berdiri sebagai saksi bisu sebuah kepercayaan. Di tengah zaman yang terus berubah, Mukrom tetap memilih memegang teguh pesan yang menurutnya harus dijaga, meski harus menolak berbagai tawaran yang menggiurkan.
"Sampai sekarang saya tetap menyimpannya. Bagi saya, yang dijaga bukan harga barangnya, tetapi amanahnya," tutup Mukrom.
(Iwan Subhan)


Posting Komentar