Viral Jemaah Haji Banten Tak Kebagian Tenda di Mina? Ketua Kloter: Itu Misinformasi!
MAKKAH, iNews45.com || Sebuah video yang memperlihatkan keributan dan kekhawatiran jemaah haji asal Banten saat berada di Mina sempat viral di media sosial. Narasi yang beredar menyebutkan bahwa jemaah tidak mendapatkan jatah tenda dan terlantar, namun fakta di lapangan ternyata berbanding terbalik. Ketua Kloter JKB 12, Anwar Munawar, memberikan klarifikasi dan meluruskan informasi yang dianggap keliru tersebut.
Video yang diunggah sejumlah akun di Banten itu menggambarkan situasi yang tegang saat jemaah baru tiba di lokasi tenda usai melaksanakan mabit di Muzdalifah, sebagai rangkaian ibadah haji. Video tersebut kemudian ditafsirkan seolah-olah jemaah tidak mendapatkan fasilitas tempat tinggal, padahal kejadian aslinya sangat singkat dan sudah terselesaikan dengan baik.
Anwar Munawar menegaskan, apa yang beredar di media sosial mengandung misinformasi. Ia menjelaskan kronologi sebenarnya saat memberikan keterangannya kepada Tim Media Center Haji, Senin (1/6/2026).
Dijelaskan Anwar, Kloter Embarkasi Banten (JKB) 12 memang telah mendapatkan jatah tempat yang jelas, yaitu menempati tiga ruangan tenda di kawasan Mina. Rinciannya, tenda pertama diisi oleh 180 jemaah, tenda kedua berisi 130 jemaah, dan tenda ketiga untuk 83 jemaah.
Masalah sempat muncul tepat saat rombongan hendak memasuki tenda ketiga. Di ruangan yang seharusnya menjadi hak mereka tersebut, sudah terlihat dihuni oleh orang-orang yang tidak dikenal.
“Pas jemaah kita mau masuk, di sana sudah ada orang-orang asing. Setelah dicari tahu, ternyata mereka adalah karyawan dapur dari perusahaan penyedia layanan haji atau Syarikah,” ungkap Anwar.
Kondisi itu memicu reaksi wajar dari para jemaah yang saat itu kondisinya sudah sangat kelelahan setelah menjalani wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah. Rasa lelah dan kekhawatiran membuat situasi sempat memanas sesaat.
“Jemaah kita wajarlah, karena sudah capek. Mereka ngotot, khawatir tidak dapat tempat. Padahal seharusnya tidak usah panik,” ujarnya menceritakan suasana saat itu.
Melihat situasi tersebut, Anwar bersama petugas pendamping langsung bergerak cepat. Mereka berkoordinasi dengan pihak Petugas Layanan Maktab (pengelola fasilitas tenda), Syarikah, hingga PPIH Arab Saudi untuk menuntaskan masalah tersebut.
“Kita langsung ke maktab, kita minta pertanggungjawaban. Kok bisa berubah seperti ini? Kita punya kartu jatah, kita punya kartu masuk. Per jemaah punya kartu identitas, semuanya lengkap ada di sana,” tegasnya saat mempertanyakan kekeliruan penempatan tersebut.
Berkat komunikasi dan pendekatan yang intensif lintas pihak, akhirnya kesepakatan ditemukan. Para karyawan dapur yang berada di ruangan itu bersedia keluar dan dipindahkan ke lokasi lain yang sudah disiapkan. Proses penyelesaian masalah ini ternyata sangat cepat, hanya berlangsung sangat singkat.
“Dengan berbagai komunikasi dan pendekatan, akhirnya orang-orang yang di dalam itu bisa keluar dan dipindahkan. Semua pihak kumpul di situ membantu, termasuk PPIH Arab Saudi. Cuma butuh waktu 15 sampai 20 menit, pagi itu juga langsung selesai,” jelas Anwar membantah isu yang menyebut jemaah lama terlantar.
Anwar memahami kenapa video tersebut bisa menyebar luas dan diartikan berbeda oleh masyarakat di tanah air. Menurutnya, ekspresi kekhawatiran jemaah yang terekam kamera murni karena kelelahan fisik setelah rangkaian ibadah berat.
“Ya itu namanya jemaah yang habis capek luar biasa, dari Arafah ke Muzdalifah. Wajar kalau ada rasa tidak sabaran atau khawatir, itu manusiawi,” katanya.
Ia memastikan, setelah insiden singkat itu selesai, seluruh 83 jemaah yang bersangkutan bisa menempati tenda dengan aman, nyaman, dan menyelesaikan rangkaian mabit di Mina hingga selesai tanpa gangguan lagi. Semua jemaah kini sudah kembali ke hotel dalam keadaan sehat walafiat.
Meski demikian, kejadian ini menjadi catatan evaluasi penting bagi PPIH dan pihak pengelola layanan. Anwar berharap ke depannya penataan dan koordinasi penempatan jemaah di Mina diperketat, agar tidak ada lagi kesalahpahaman atau miskomunikasi yang berpotensi menimbulkan kegaduhan.
“Alhamdulillah akhirnya selesai baik-baik. Tapi ini jadi bahan evaluasi bersama agar layanan penempatan di Mina semakin tertib dan baik lagi tahun depan,” pungkasnya.


Posting Komentar