Merawat Pancasila dengan Nalar, Sikap, dan Tindakan Nyata
Setiap tanggal 1 Oktober, kita ketemu lagi dengan satu momentum yang sudah akrab sejak SD, Hari Kesaktian Pancasila. Upacara diadakan, poster berseliweran di media sosial, dan kalimat tentang menjaga Pancasila muncul di mana-mana. Tapi buat kita sebagai mahasiswa, rasanya hambar kalau semua ini cuma berhenti di seremoni. Setelah puluhan tahun diperingati, ada hal yang jauh lebih serius untuk dipikirkan, apakah nilai Pancasila benar-benar masih hidup dalam cara kita mikir dan bertindak sehari-hari?
Hari Kesaktian Pancasila nggak bisa dilepas dari rangkaian peristiwa politik 1965. Penetapan hari ini berhubungan erat dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan dinamika politik setelahnya. Tapi membaca sejarah 1965 butuh sikap kritis. Penulisan sejarah Gerakan 30 September berkembang dalam beberapa fase. Di masa Orde Baru, narasi sejarahnya sangat dominan, seragam, dan diajarkan dengan versi tunggal. Setelah Reformasi, mulai banyak muncul sumber baru, kesaksian, dan sudut pandang alternatif. Intinya, sejarah nggak cukup dipahami hanya dengan menghafal satu rangkaian kejadian. Kita perlu baca sumber, bandingkan pandangan, dan pahami konteksnya.
Ini penting karena memori tentang peristiwa 1965 sampai sekarang masih terus dibentuk lewat pendidikan, media, buku, film, sampai ruang digital. Media daring pun bisa menyajikan narasi yang berbeda soal peran tokoh dan urutan peristiwa Gerakan 30 September. Kondisi ini mengingatkan bahwa akses informasi yang luas nggak otomatis bikin pemahaman kita tentang sejarah jadi utuh. Buat mahasiswa, hal ini harusnya mendorong kebiasaan sederhana tapi krusial, jangan gampang menerima satu narasi cuma karena sering diulang. Baca, cari sumber, bandingkan, lalu bentuk pemahaman berdasarkan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.
Setelah ngomong soal sejarah, pertanyaannya, apa sebenarnya yang perlu kita "selamatkan" dari Pancasila hari ini?
Pancasila bisa dipahami sebagai titik temu yang menyatukan berbagai kelompok dan pandangan berbeda dalam kehidupan berbangsa. Di dalamnya ada nilai-nilai pemersatu yang bisa dipakai sebagai dasar menyelesaikan perbedaan dan konflik. Justru di sini, menurut saya, makna "kesaktian" Pancasila terasa paling relevan. Kesaktian Pancasila nggak harus dimaknai sebatas slogan bahwa Pancasila tidak dapat dikalahkan, tapi bisa kita renungkan lewat kemampuannya untuk terus jadi titik temu di tengah masyarakat yang berbeda agama, suku, pandangan politik, kondisi ekonomi, dan latar sosial.
Masalahnya, mempertahankan Pancasila jauh lebih susah daripada sekadar mengucapkannya. Kita bisa hafal lima sila, tapi masih merendahkan orang yang beda pendapat. Kita bisa bicara tentang kemanusiaan, tapi diam waktu lihat ketidakadilan. Kita bisa teriak soal persatuan, tapi gampang banget saling serang di media sosial cuma karena beda pilihan. Bahkan di kampus, nilai Pancasila sebenarnya diuji di hal-hal yang kelihatannya sepele, mau nggak kita mendengar pendapat orang lain, apakah organisasi dijalankan dengan adil, apakah kritik diterima dengan lapang dada, dan apakah kepentingan bersama benar-benar ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, momentum Hari Kesaktian Pancasila bisa kita baca lewat beberapa ruang yang dekat dengan kita, religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Religiusitas mengingatkan bahwa perjuangan harus punya landasan moral. Intelektualitas menuntut kita untuk tidak malas membaca sejarah dan tidak gampang menelan mentah-mentah narasi tanpa dasar. Humanitas menegaskan bahwa pengetahuan dan keyakinan tersebut harus bermuara pada keberpihakan kepada nilai kemanusiaan.
Jadi, tugas mahasiswa di Hari Kesaktian Pancasila bukan cuma mengulang cerita masa lalu. Tugas kita memastikan Pancasila nggak berhenti jadi hafalan yang hanya muncul setiap tanggal 1 Oktober.
Pancasila perlu ada di setiap ruang diskusi, tanpa bikin orang dibungkam. Ada saat kritik tidak dilihat sebagai permusuhan. Ada saat perbedaan tidak berubah jadi kebencian. Ada saat ilmu yang kita pelajari di kampus betul-betul dipakai buat menyelesaikan masalah di masyarakat.
Pada akhirnya, sejarah memang harus diingat. Tapi sejarah baru benar-benar punya arti ketika bisa membuat generasi setelahnya berpikir lebih jernih dan bertindak lebih baik. Hari Kesaktian Pancasila seharusnya bukan cuma mendorong kita bertanya apa yang terjadi di masa lalu, tapi juga memaksa kita bertanya ke diri sendiri
Sejauh apa Pancasila benar-benar hidup dalam diri kita hari ini?
Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026.
Mari menjaga Pancasila bukan cuma lewat kata-kata, tapi lewat nalar, sikap, dan tindakan.


Posting Komentar