Dari Kesadaran Menuju Tindakan: Peran Promosi Kesehatan dalam Mencegah Penyakit Jantung
![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Pernahkah kita berpikir bahwa penyakit jantung yang mungkin baru kita khawatirkan di masa depan sebenarnya dapat berkaitan dengan kebiasaan yang kita lakukan hari ini?
Kebiasaan seperti jarang bergerak, terlalu lama duduk, mengonsumsi makanan yang kurang sehat, hingga merokok sering dianggap sebagai hal biasa karena dampaknya tidak selalu langsung terasa. Padahal, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. World Health Organization (WHO) mencatat sekitar 19,8 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular pada 2022. Sejumlah faktor risikonya juga berkaitan dengan perilaku dan kondisi yang sebenarnya dapat dicegah atau dikendalikan, seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, obesitas, dan polusi udara. Karena itu, menurut saya, perhatian terhadap kesehatan jantung tidak seharusnya menunggu seseorang mengalami keluhan terlebih dahulu. Upaya pencegahan justru perlu dibangun sejak seseorang masih merasa sehat.
Selama ini, menjaga kesehatan jantung sering kali ditempatkan sebagai tanggung jawab pribadi. Masyarakat dianjurkan untuk berolahraga, menjaga pola makan, dan berhenti merokok, tetapi pembahasan mengenai alasan seseorang sulit mengubah kebiasaan tersebut masih sering terlewat. Melalui scoping review terhadap 31 penelitian di Malaysia, menemukan keterkaitan antara rendahnya aktivitas fisik, merokok, pola makan yang kurang baik, jam kerja, serta akumulasi beberapa faktor gaya hidup dengan risiko penyakit kardiovaskular. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa berbagai upaya pencegahan banyak diarahkan pada peningkatan aktivitas fisik dan perubahan gaya hidup yang mencakup beberapa aspek sekaligus. Bagi saya sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat, temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan penyakit jantung tidak tepat jika hanya dijelaskan dengan anggapan bahwa masyarakat “kurang sadar”. Perilaku kesehatan terbentuk melalui berbagai kondisi, sehingga pencegahannya juga perlu mempertimbangkan kebiasaan, lingkungan, akses, serta keadaan sosial yang memengaruhi kehidupan seseorang.
Karena itu, promosi kesehatan perlu memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi. Pengetahuan mengenai bahaya rokok, manfaat aktivitas fisik, pola makan sehat, maupun pentingnya mengetahui faktor risiko tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan. Namun, mengetahui suatu informasi tidak selalu berarti seseorang mampu menerapkannya. WHO juga menekankan pentingnya kebijakan dan lingkungan yang membuat pilihan hidup sehat lebih mudah dijangkau dan dilakukan oleh masyarakat. Menurut saya, pendekatan tersebut lebih realistis karena perubahan perilaku tidak dapat dilepaskan dari kondisi di sekitar individu. Mengajak masyarakat lebih aktif bergerak, misalnya, perlu didukung oleh lingkungan yang memungkinkan aktivitas tersebut dilakukan dengan aman. Begitu pula dengan pola makan sehat dan pengendalian penggunaan tembakau yang membutuhkan dukungan lingkungan serta kebijakan. Promosi kesehatan bukan hanya tentang membuat masyarakat mengetahui pilihan yang sehat, tetapi juga membantu menciptakan kondisi agar pilihan tersebut dapat benar-benar dilakukan.
Perspektif tersebut menjadi semakin relevan dengan tema Hari Jantung Sedunia 2026, “Don’t Miss a Beat”. World Heart Federation menggunakan tema ini untuk mengajak masyarakat mengenali tanda dan gejala penyakit jantung, menjaga kesehatan jantung, serta mendorong tindakan. Namun, menurut saya, pesan tersebut tidak hanya dapat dimaknai sebagai ajakan untuk lebih peka terhadap gejala. Dalam perspektif Kesehatan Masyarakat, kita juga perlu melihat kesempatan untuk mencegah penyakit sebelum gejala muncul. Memang, individu memiliki peran dalam menentukan kebiasaan hidupnya. Akan tetapi, keputusan tersebut tidak berlangsung dalam ruang kosong. Kondisi lingkungan, kebijakan, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta keadaan sosial dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk menerapkan perilaku sehat. Karena itu, pencegahan penyakit jantung membutuhkan keterlibatan individu sekaligus dukungan dari lingkungan dan sistem kesehatan.
Pada akhirnya, Hari Jantung Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi peringatan yang berlangsung setiap 29 September. “Don’t Miss a Beat” dapat dimaknai sebagai pengingat agar kesempatan untuk mencegah penyakit tidak terlewat begitu saja. Bagi saya, promosi kesehatan memiliki peran sebagai penghubung antara pengetahuan dan tindakan. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, tetapi pada saat yang sama juga membutuhkan dukungan agar informasi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat, saya melihat bahwa keberhasilan pencegahan tidak cukup diukur dari kemampuan seseorang menyebutkan faktor risiko penyakit jantung. Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan tersebut dapat mendorong perubahan perilaku dan didukung oleh lingkungan yang memungkinkan perubahan itu bertahan.
Sebab, menjaga kesehatan jantung bukan sesuatu yang baru dimulai ketika penyakit datang, tetapi dibangun melalui pilihan dan kondisi yang kita bentuk sejak sebelumnya.


Posting Komentar