Kota Serang, Banten, iNews45.com || Suasana kali ini berbeda Alun-Alun Masjid Agung Banten Lama, Kecamatan Kasemen dipenuhi lautan manusia berpakaian putih. Di bawah menara bersejarah yang menjadi saksi bisu kejayaan imperium Islam di Nusantara, ribuan rakyat berkumpul untuk satu tujuan Menjemput karomah dan mengobarkan kembali marwah sang penakluk, Sultan Maulana Hasanuddin, dalam peringatan Haul Agung ke-465 pada Senin malam, (30/3).
Tampak terasa suasana magis saat gema istigasah dan lantunan ayat suci Al-Qur'an membelah langit Banten. Kehadiran Wakil Menteri Sosial (Wamensos) RI yang juga Ketua Umum DPP Partai PRIMA, Agus Jabo Priyono, membawa pesan heroisme yang membakar semangat persatuan nasional di hadapan para ulama, pejabat tinggi, hingga delegasi internasional.
Membuka orasinya dengan penuh energi, Agus Jabo mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah mengkhianati akarnya. Ia mengutip wasiat Bung Karno tentang "Jas Merah", Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
"Sultan Maulana Hasanuddin adalah sejarah hidup yang harus kita jaga. Beliau bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan kompas bagi masa depan kita!" seru Agus Jabo di tengah gemuruh jemaah pada Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, Sultan Maulana Hasanuddin telah mewariskan Tiga Pilar Peradaban yang menjadi kunci kedigdayaan sebuah bangsa: Politik yang berwibawa (Istana Surosowan), Spiritualitas yang kokoh (Masjid Agung), dan Kemandirian Ekonomi yang merdeka (Bandar Internasional Banten).
"Inilah konsep kenegaraan yang hakiki. Istana sebagai pusat pemerintahan, Masjid sebagai ruh spiritual, dan Pasar sebagai urat nadi kemakmuran rakyat. Warisan ini adalah jati diri kita sebagai bangsa Timur yang luhur!" tegasnya.
Momentum haul ini berubah menjadi panggung solidaritas global yang luar biasa. Hadirnya Duta Besar Republik Islam Iran, Mohammad Boroujerdi, memberikan sinyal kuat tentang persaudaraan Bangsa-bangsa yang menolak tunduk pada tekanan luar. Kehadiran Dubes Iran di Banten Lama merupakan puncak dari rangkaian safarinya setelah menyambangi tokoh-tokoh tangguh Banten seperti KH Embay Mulya Syarief, Ponpes Insan Cita Serang (ICS), dan Al-Khairiyah.
Agus Jabo menyebut malam tersebut sebagai "Malam Manunggal" titik lebur antara pemimpin, ulama, dan rakyat.
"Malam ini adalah bukti persatuan kita. Dengan semangat gotong royong dan persatuan nasional yang tidak tergoyahkan, kita akan mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat penuh di atas kaki sendiri!" pungkasnya disambut pekik takbir para hadirin.
Acara yang berlangsung khidmat hingga dini hari, dalam acara haul tersebut tampak hadiri oleh deretan tokoh kunci, di antaranya: Gubernur Banten, Andra Soni, Wali Kota Serang, Budi Rustandi, Ketua DPRD Banten, Fahmi Hakim, Kapolda Banten, Irjen Pol. Hengki, Serta para ulama sepuh yang menjadi pilar penjaga moral masyarakat Banten.
Haul Agung ke-465 ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah proklamasi ulang bahwa dari tanah Banten, semangat perlawanan terhadap ketidakadilan dan ambisi untuk menjadi bangsa pemenang masih menyala dengan sangat terang.
(*/Rudini)

